Dunia kadang menjadi tempat yang melelahkan. Saat kita mencintai, memperhatikan, memberi banyak hal kepada mereka, bisa saja mereka belum tentu membalas apa yang kita lakukan. Namun itu tak membuat kita berhenti berbuat. Kita harus terus berusaha lebih atas keyakinan Hasil tak kan pernah menghianati proses. Tidak akan pernah suatu usaha sia-sia.
Lalu pertanyaan terkadang muncul:
1. Mengapa kita terus memberikan perhatian, tenaga, dan waktu kepada sebagian mereka yang sudah jelas-jelas tak pernah menghargainya?
2. Mengapa kita tak menjauhi mereka, bahwa hidup tanpa mereka akan tetap baik-baik saja?
Menjawab pertanyaan ini sebetulnya sangat mudah bagi kebanyakan orang, tapi akan menjadi berbeda bila ditujukan pada Sosok Bapak I Nyoman Suwirta.
Sosok yang selalu berusaha keras untuk mencari hati mereka, menciptakan hubungan sebaik-baiknya, dengan membiarkan tubuh dan hati lelah. Ketulusan dalam mengabdi bukanlah untuk mendapatkan hasil bagi diri sendiri, tapi hasil bagi mereka yang diperjuangkan.
Relawan Suwirta selama ini melihat sosok I Nyomas Suwirta selalu kita mencoba untuk menjadi sosok yang selalu ada bersama mereka.. Namun tetap saja ada bagian dari mereka yang merasa bahwa segala yang dilakukan ini belum apa-apa. Mereka seperti menutup mata pada yang telah dilakukan karena beberapa hal yang belum mampu mereka dapatkan. Mereka menganggap ini sebagai kekurangan, sekalipun Bapak Nyoman Suwirta telah mati-matian berusaha untuk segera mendapatkan jalan membantu mereka. Bapak Nyoman Suwirta betul-betul sadar bahwa hasil atau tujuan tidak akan diharapkan datang dari rasa kasihan, tapi hasil akan tiba ketika kita tulus dalam memberi, Berhenti memperjuangkan yang tak layak dijalani, bersyukur pada hasil yang bisa kita berikan bagi mereka.
Tak ada yang lebih membahagiakan dari menikmati apa yang memang kita perjuangkan. Kesederhanaan yang selama ini dilakoni Bapak Nyoman Suwirta mungkin tak mereka sadari sepertinya mampu memberi perubahan yang begitu besar pada hidup mereka.
Mari...bangun kembali....perkuat kembali kekuatan kekuatan kita..... satukan tujuan kita.....walaupun jalan mungkin berbeda.Sudah waktunya bagi kita untuk menggali kembali jati diri klungkung sebagai masyarakat yang tangguh melalui jalan Santun dalam Karakter dan Inovasi dalam setiap langkah dan perbuatan.
Lalu pertanyaan terkadang muncul:
1. Mengapa kita terus memberikan perhatian, tenaga, dan waktu kepada sebagian mereka yang sudah jelas-jelas tak pernah menghargainya?
2. Mengapa kita tak menjauhi mereka, bahwa hidup tanpa mereka akan tetap baik-baik saja?
Menjawab pertanyaan ini sebetulnya sangat mudah bagi kebanyakan orang, tapi akan menjadi berbeda bila ditujukan pada Sosok Bapak I Nyoman Suwirta.
Sosok yang selalu berusaha keras untuk mencari hati mereka, menciptakan hubungan sebaik-baiknya, dengan membiarkan tubuh dan hati lelah. Ketulusan dalam mengabdi bukanlah untuk mendapatkan hasil bagi diri sendiri, tapi hasil bagi mereka yang diperjuangkan.
Relawan Suwirta selama ini melihat sosok I Nyomas Suwirta selalu kita mencoba untuk menjadi sosok yang selalu ada bersama mereka.. Namun tetap saja ada bagian dari mereka yang merasa bahwa segala yang dilakukan ini belum apa-apa. Mereka seperti menutup mata pada yang telah dilakukan karena beberapa hal yang belum mampu mereka dapatkan. Mereka menganggap ini sebagai kekurangan, sekalipun Bapak Nyoman Suwirta telah mati-matian berusaha untuk segera mendapatkan jalan membantu mereka. Bapak Nyoman Suwirta betul-betul sadar bahwa hasil atau tujuan tidak akan diharapkan datang dari rasa kasihan, tapi hasil akan tiba ketika kita tulus dalam memberi, Berhenti memperjuangkan yang tak layak dijalani, bersyukur pada hasil yang bisa kita berikan bagi mereka.
Tak ada yang lebih membahagiakan dari menikmati apa yang memang kita perjuangkan. Kesederhanaan yang selama ini dilakoni Bapak Nyoman Suwirta mungkin tak mereka sadari sepertinya mampu memberi perubahan yang begitu besar pada hidup mereka.
Mari...bangun kembali....perkuat kembali kekuatan kekuatan kita..... satukan tujuan kita.....walaupun jalan mungkin berbeda.Sudah waktunya bagi kita untuk menggali kembali jati diri klungkung sebagai masyarakat yang tangguh melalui jalan Santun dalam Karakter dan Inovasi dalam setiap langkah dan perbuatan.

Komentar
Posting Komentar