Kisah si anak miskin dari seberang lautan


Nyoman Suwirta lahir di Pulau Nusa Ceningan, Kecamatan Nusa Penida pada 1 Desember 1967 lalu. Suwirta adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara, buah hati pasangan I Made Baom dan Ni Wayan Mari.


Suwirta hidup dalam lingkungan keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi ketika hendak melanjutkan pendidikannya setelah tamat sekolah dasar. Suwirta yang masih bocah nekat pergi dari kampungnya untuk merantau ke Pulau Nusa Penida. Di sana Suwirta bertemu dengan seseorang yang mempekerjakannya sebagai penjaga ayam boiler. Suwirta pun disekolahkan oleh tuannya itu di SMP Nusa Penida. Setiap hari selain menjaga ayam-ayam boiler tuannya, Suwirta pun mengamati bagaimana tuannya itu berbisnis ayam. Pengamatannya inilah yang menumbuhkan minat Suwirta untuk pertama kalinya pada bidang bisnis.


Setelah tamat dari SMP Nusa Penida, Suwirta lalu pindah ke Kota Klungkung. Di sana ia menjadi abdi di Puri Smara Negara sembari melanjutkan sekolah di SMA 1 Klungkung. Jadi, biaya sekolah dan hidupnya selama di Klungkung, ditanggungnya secara mandiri. Setamat SMA pada 1987, Suwirta tidak langsung melanjutkannya ke perguruan tinggi. Ia lalu bekerja di koperasi Srinadi di Klungkung.


Di koperasi ini ia meniti karir sebagai kolektor, turun ke pasar bersama teman-teman dari jam tujuh pagi, mendekati pedagang, merayu nenek-nenek agar bersedia menjadi anggota Koperasi Srinadi. Berproses dari nol hingga ditahun 1994 dipercaya menduduki posisi Manager. Saat ini berkat kerja keras, menerapkan Konsep Koperasi berdasarkan Tri Hita Karana, dan pada akhirnya Koppas Srinadi bermetamorfosis menjadi Koperasi terbesar di Bali dan 32 di Indonesia. Pekerjaan itu amat disenangi Suwirta, tetapi tidak serta merta membuat ia lupa pada pada cita-cita masa kecilnya.


Sejak SD, Suwirta bericta-cita menjadi guru. Keinginan ini timbul bukan tanpa alasan. Banyak di antara saudara-saudaranya yang tidak dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya. Suwirta termasuk cukup beruntung karena bisa mencapai jenjang SMA. Oleh karena itu dia ingin belajar di satu tahap lagi agar kelak bisa menjadi guru yang membantu anak-anak kurang mampu mencapai cita-cita mereka. Dia lalu melanjutkan pendidikannya ke IKIP PGRI Bali dengan mengambil konsentrasi program studi pendidikan Biologi.


Kendati berhasil lulus dengan baik dari IKIP, jalan hidup tak membawanya pada cita-cita menjadi guru. Suwirta justru kemudian ditunjuk sebagai manajer koperasi tempatnya bekerja. Lewat pengalamannya bekerja di koperasi, Suwirta menyadari bahwa membantu orang lain tidak hanya lewat jalur pendidikan. Dengan gotong royong yang selalu digalakan oleh koperasi, ia pun bisa membantu orang lain keluar dari kesusahan.
Pekerjaan itu terus ia tekuni sampai pada 2008, Suwirta memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang Strata 2. Jurusan yang dipilihnya kali ini adalah manajemen di salah satu Sekolah Tinggi Ekonomi, Kota Badung.


Karir politik awalnya sama sekali jauh dari perencanaan hidupnya. Namun I Nyoman Suwirta sangat ingin sekali memajukan kesejahteraan Masyarakat Klungkung, agar bisa unggul di bidang kesehatan, pendidikan, perekonomian serta kestabilan dalam keamanan dan politik. Namun, ia menyadari bahwa niat ini tidak bisa dilakukan bila hanya berkecimpung di Koperasi saja. Ia sendiri harus masuk dalam sistem pemerintahan untuk mewujudkannya. Maka dari itu saat Pilkada Klungkung 23 Agustus 2013 lalu, Suwirta memutuskan untuk maju menjadi calon bupati Klungkung. Suwirta memang beruntung karena berhasil memenangkan hati rakyat dan keluar sebagai pemenangnya.



Komentar